Nge-tweet Lagi (Day 17)

23:27:00


Akhir-akhir ini, aku mencoba kembali ke platform Twitter yang sudah lama kutinggalkan. Terakhir kali aku benar-benar nge-tweet secara aktif adalah sekitar akhir tahun 2014, sebelum akhirnya tweets selanjutnya didominasi oleh link ke postingan di blog mikro yang kekinian macam Instagram dan lain-lain.

Setelah beberapa hari yang lalu mulai 'nyapu-nyapuin' timeline biar nggak dipenuhi akun-akun yang kerjaannya nge-repost tweets akun lain, akun quotes, dan akun-akun hopeless romantic selera anak baru puber, akhirnya, well, sepertinya aku siap kembali ke Twitter.

Tapi enaknya ngapain ya di Twitter? Total tweets-ku sampai saat ini adalah 29,2 ribu dihitung dari bulan April 2011. Selama bertahun-tahun itu, kerjaanku nulis apaan ya di sana? Se-nggak penting apa ya kejadian yang aku tuangkan selama itu? Ditambah lagi, di mana ya perginya orang-orang? Dulu kenapa mendapatkan retweet dan mention itu mudah sekali, sedangkan sekarang rasanya aku kayak ngomong sendiri ya?

Menurut beberapa orang yang aku temui, alasan mereka merasa nyaman untuk tetap berkicau di Twitter adalah justru karena platform tersebut sudah sepi pengunjung. Nggak ada lagi akun-akun atau orang-orang nyampah nggak penting dan ngebuat timeline jadi kotor.

Hmm, masalahnya, isi timeline-ku literally cuma dari akun jokes yang rasanya nggak kayak ngebaca tweets-nya 'manusia'. Paham kan maksudku? Jadi, aku merasa kehilangan komunitas dan interaksi yang pernah kurasakan di Twitter beberapa tahun yang lalu.

But oh well, mungkin akhirnya Twitter bisa kuposisikan sebagai semacam Snapchat buatku, di mana aku bisa nge-spam sesukaku dan rant about anything tanpa takut mengganggu orang lain. Let's give it a try.

*Hey, I'm sorry ok? Lagi-lagi postingan yang nggak thoughtful. Maaf ya, lagi banyak yang harus dilakukan, huhuhu. But thanks for reading, loh!

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Subscribe