Hari Ini Ngobrol Tentang Seni(man) (Day 22)

12:59:00

Sebuah potret totebag-nya SKM Bulaksumur. Huehuehuehue
Berangkat dari motivasi agar jadi tambah pintar dan terdengar keren, sejak kuliah aku memutuskan untuk bergabung di pers mahasiswa di kampusku, tepatnya di Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur.

Di sana kerjaanku adalah datang rapat sambil terkantuk-kantuk, mengeluh sedikit karena ngantuk, dapat bahan untuk diliput, melakukan liputan, bikin transkrip wawancara, dan nulis berita di terbitan kami yang namanya Bulaksumur Pos. Kadang juga ikut teman yang sedang liputan untuk ambil foto narasumbernya.

Beberapa kali liputan sudah aku lakukan dengan bermacam-macam narasumber dan berbagai masalah yang diangkat. Tapi, hari ini baru aja aku pulang dari sebuah wawancara yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Liputan hari ini cukup bikin aku semangat, karena aku nggak ditugaskan untuk meliput isu, tapi meliput tentang sosok yang dianggap inspiratif di UGM dan akan dimasukkan ke rubrik People Inside. Hal-hal seperti ini, secara pribadi, menurutku lebih menarik daripada harus meliput sebuah isu karena aku berkesempatan untuk mendengarkan cerita dari individu dengan pemikiran dan prinsip yang pasti akan menambah cara pandangku dalam melihat k e h i d u p a n. Hahahaha.

Pagi ini, aku berkesempatan mewawancarai Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan, seorang seniman yang berstatus sebagai mahasiswa Sastra Indonesia UGM '14.

Sebelum ketemu langsung dengan orangnya, jujur aku gugup banget. Ya tiap mau liputan aku emang selalu gugup sih, tapi kali ini beda, karena kayaknya ini pertama kalinya aku gugup sewaktu mau wawancara mahasiswa.

Setelah semalaman berusaha cari tau tentang background narasumberku dengan bekal internet dan media sosial seadanya, serta tanya-tanya ke rekan liputanku yang kebetulan kenal dengan beliau, aku dapat gambaran kalau memang mas Lutfi ini nyeni banget. Maksudnya? Ya passionate, berprinsip, berprestasi di bidangnya, dan di pikiranku saat itu beliau pasti sikapnya nyentrik.

Dari situlah rasa gugupku mulai muncul, karena, well, aku tau kalau orang yang mau kuwawancarai ini bukan orang sembarangan. Berarti, liputan dan hasil tulisanku juga nggak boleh asal-asalan. Wah.

Ditemui di kantin bonbin UGM (yang sebenarnya aku baru tau kalau 'reruntuhan' bonbin di UGM ini masih ada), beliau sedang duduk dan ngobrol dengan teman-temannya sambil ditemani kopi dan rokok. Begitu melihat aku dan Agnes (rekan liputanku), mas Lutfi langsung mengajak salaman sambil memperkenalkan diri, "Lutfi,".

Setelah kami bertiga dapat satu meja kosong, langsung saja wawancara dimulai. Awalnya pasti aku tanya hal-hal basic semacam tempat tanggal lahir, awal mula masuk dunia teater, dan minta sedikit dijelaskan tentang proyek-proyek yang sedang digarapnya. Di tengah-tengah wawancara, dalam hati aku sempat panik karena kok rasanya stok pertanyaan sudah mau habis padahal baru wawancara 7 menit???! Ditambah lagi, dari 7 menit wawancara itu aku masih belum mendapat banyak jawaban 'inspiratif' dari beliau, tapi hanya bersifat informatif aja. Waduh, aku harus melempar pertanyaan yang gimana lagi??

Selingan sebentar. Jadi, di tengah-tengah wawancara, ada dua orang mbak-mbak lewat yang kemudian menawarkan promo produk kopi ini. Setelah bertanya-tanya sebentar (yang kebanyakan lebih berniat ke pertanyaan iseng, sebenarnya), Mas Lutfi memutuskan untuk beli deh. Foto diambil di akhir wawancara, sepertinya Agnes sedang ngetes kamera saat mempotret ini.
Tapi, seperti kata orang, "The Power of Kepepet" selalu datang di saat-saat seperti ini. Eman rasanya, punya kesempatan ngobrol dengan orang keren kalau nggak aku gali pemikiran dan prinsip hidupnya. Akhirnya, sedikit demi sedikit aku mulai melempar pertanyaan-pertanyaan impromptu. 

Dari situlah, jawaban-jawaban inspiratif mulai muncul, yang beberapa cukup mengubah pandanganku terhadap dunia seni, khususnya teater. Mas Lutfi sempat mengatakan kalau teater mengajarkan kebaikan dan kedisplinan, dan selepas liputan, Agnes mengaku kalau dia sangat suka dengan jawaban itu. Tapi, karena aku sudah pernah mendengar hal semacam itu dari orang lain sebelumnya, aku punya jawaban lain dari beliau yang jadi favoritku dan mulai stuck di kepalaku saat ini.

Mas Lutfi sempat mengatakan hal yang diajarkan oleh guru teaternya, "Jangan macak seniman," yang artinya, "Jangan berdandan seperti seniman,". Hal ini merujuk pada stigma penampilan orang seni yang katanya suka pakai baju sobek-sobek, nggak rapih dan nggak sopan. Sepenggal kalimat ini rasanya langsung ngena banget buatku, karena jujur aja sebelum melakukan wawancara ini aku selalu merasa bahwa seniman harus berpakaian seperti seniman, berdandan seperti seniman, dan bersikap seperti seniman. Tapi, maksudnya "seperti seniman" itu bagaimana? Sebelumnya, di kepalaku "seperti seniman" berarti nyentrik, menyala-nyala, serba riot, pokoknya tampil beda dan melawan arus deh.

Menurut beliau, yang menjadikan orang sebagai seniman adalah karya-karyanya, tentu hal ini juga sudah pernah kudengar dari dulu. Tapi, dulu sama sekali nggak pernah masuk ke hati karena bagiku ya seniman itu kudu berdandan "edan", kalau nggak seperti itu ya kurang nyeni.

Tapi dari yang aku dapatkan dari mas Lutfi, jadi seniman nggak kudu jadi seperti itu juga. Hanya karena kamu seniman, apa lalu kamu boleh berpakaian sesukamu sewaktu menghadiri acara resmi? Hanya karena kamu seniman, lalu kamu boleh berperilaku semaumu dan mengesampingkan attitude? Nggak, tuh.

Ternyata, seni mengajarkan seniman untuk memiliki attitude yang sangat baik dalam hal apapun. Berkelas banget, pokoknya.

Masih ada poin-poin menarik lain yang diutarakan oleh beliau, tapi nggak akan aku tulis di sini karena bakal jadi bahan tulisanku di Bulaksumur Pos.

Kurang lebih 30 menit kami melakukan wawancara, sebenarnya cukup singkat untuk sebuah liputan yang membahas tentang pribadi seseorang. Sebenarnya sedih juga sih, masa kemampuanku cuma sebatas bisa nanya-nanya selama setengah jam? Mana pertanyaannya sebenarnya standar-standar juga. Tapi ya sudah lah, aku sudah bersyukur akhirnya bisa melakukan wawancara yang paling "manusia" dari liputan-liputanku sebelumnya, hahahaha. Ditambah lagi, narasumberku juga sangat kooperatif, jawaban yang diberikanpun jelas, dan pastinya menambah pandangan hidup baru buatku.

Liputan hari ini, sukses!

(*Maaf nggak mencantumkan foto mas Lutfi sewaktu liputan, karena izin pengambilan foto tadi pagi hanya untuk dimasukkan ke artikel di Bulaksumur Pos, dan lagian... kalau fotonya juga kumasukin sini, masa mau pakai foto yang sama dengan yang di artikel tulisanku? Heuheu)

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Subscribe