Ngomongin Kopi (But Not Really) (Day 9)

23:45:00

Sebuah potret diri saat menggenggam kopi fotojenik. Huhuhu tanganku kok gitu ya.
Sejak masuk kuliah, rutinitasku untuk minum kopi semakin menjadi-jadi aja. Eeee waduuh kopi apaan sih??? Hehe, yang kuminum memang cuma kopi-kopi manis unyu menyenangkan yang bisa kamu dapati di kulkasnya Indomaret sih. Tapi ya itu juga kopi toh namanya, dan ada kafeinnya juga, bikin melek juga.

Lucu deh, padahal dulu jarang banget minum kopi, apalagi setelah sadar kalau reaksi badanku terhadap kafein tuh lebay sekali. Pokoknya, setelah minum kopi (padahal Good Day doang loh), rasanya langsung berdebar-debar dan jadi super ceria. Akhirnya, dulu aku minum kopi cuma kalau tiba-tiba pengen, bukan karena beneran suka atau karena faktor kebutuhan.

Eh tapi semakin ke sini, kebutuhan untuk melek dan bersemangat itu semakin mendesak. Akibatnya, karena semakin sering minum kopi, lama-lama aku bahkan punya segmentasi kopi-kopi yang biasa ku minum dan disesuaikan dengan kebutuhan. (Widiiii).

Misalnya, kalau aku butuh sedikit 'support' biar nggak cemberut-cemberut amat di pagi hari, Good Day atau Nescafe yang kemasannya lucu itu biasanya berfungsi dengan baik. Dua merk ini juga bagus kalau aku hanya butuh sedikit 'tendangan' biar bisa melek dan mengerjakan paper di malam hari tanpa takut ujung-ujungnya nggak bisa tidur karena kafein.

Sedangkan kebutuhan untuk semangat berapi-api menghadapi hari yang kemungkinan tidak menyenangkan, dan membutuhkan aktivitas fisik atau hal semacam itu, aku minum Kopiko 78 Degree. Widih. Kalau minum ini, aku minumnya kudu pelan-pelan, nggak bisa ditenggak langsung satu botol (yakali). Cukup berapa teguk aja biasanya udah mulai kerasa berdebar-debar dan rasa bahagia yang aneh (tapi enak) (nggak juga ding) ala-ala efek kopi.

Segmentasi ini harus diterapkan dengan benar, karena kalau sampai salah tempat, efeknya bisa nggak asik. Misalnya, kalau aku sekadar butuh mata melek di malam hari untuk mengerjakan paper sebentar, pokoknya jangan sampai aku minum Kopiko 78 Degree. Kenapa? Karena efeknya tuh kopi pada diri q tuh kuat banget deh nggak bohong. Saking besarnya efek semangat dari kopi itu, yang ada aku malah nggak bisa duduk diam di depan laptop dan ngerjain paper, karena rasanya badan tuh harus digerakkan, or else rasanya badanku mau meledak!!!!

Karena nggak bisa duduk diam dan ngerjain paper, akhirnya aku malah sebisa mungkin melakukan apapun yang melibatkan gerakan badan. Misalnya, nyanyi-nyanyi, joget, main gitar... dan itu baru bisa berhenti kalau badan udah mulai capek. Ketika badan udah capek, efek meledak-ledak dari kopi tadi sudah hilang, tinggal rasa capek saja, yang berarti aku udah nggak ada semangat bikin paper lagi. Tapi, walaupun sudah capek, somehow rasanya tetap aja nggak bisa tidur. Akhirnya, serba salah! Mau ngerjain paper udah nggak ada semangat, mau tidur tapi nggak bisa.

Jadi, itulah pentingnya segmentasi minum kopi pada kegiatan sehari-hariku.

Lalu, apa esensi dari memberitahu kalian semua tentang segmentasi kopi ini? Oh, tentu saja nggak ada.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Subscribe