Kebetulan (Day 3)

23:21:00


Sepanjang hidup, pasti sudah nggak terhitung berapa "kebetulan" yang kita alami, dan akhirnya malah berpengaruh besar pada pembentukan diri kita yang sekarang.

Misalnya, pengalaman tentang seniorku dari klub bahasa Inggris di SMA yang dapat beasiswa kuliah ke Malaysia karena dia "kebetulan" dapat chat dari pelatih debatnya tentang informasi beasiswa itu. Atau bahkan, aku pernah tanya ke seorang teman dekat, "Lha kamu kok bisa punya pacar?", lalu dia jawab, "Kebetulan,".

Seringkali, saat sedang menengok ke kehidupan orang lain yang kayaknya kok hepi banget, rasa nggak bersyukurku pun kambuh. Iya sih, kehidupan orang lain yang menyenangkan dan penuh pencapaian pasti adalah hasil dari kerja keras dan bla bla bla. Tapi, pasti ada faktor "kebetulan" juga dong. Menyadari ini, akhirnya bawaanku pengen mengutuk si "kebetulan" ini, kenapaaaa kok kebetulannya nggak buat aku aja.

Kapan hari, sepupuku yang kerja di Bali datang ke Jogja dan ngajakin jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata di sini. Sepulang dari sana, kami pergi makan malam dan di sanalah kami ngobrol ke sana kemari dengan topik super dalam.

Topik utama obrolan kami berisi bagaimana sepupuku ini meyakinkan aku bahwa ada begitu banyak kesempatan berharga yang hanya mampu dirasakan mahasiswa. Misalnya, jalan-jalan ke luar negeri secara gratis, dapat beasiswa, ikut lomba-lomba, event, dan banyak banyak banyak lagi.

Aku yang sebenernya sedang agak-agak hilang motivasi untuk ngapa-ngapain, otomatis langsung menyangsikan omongan sepupuku ini dong. Kan nggak segampang itu, pikirku.

Kemudian, sepupuku ini bercerita tentang temannya semasa kuliah dulu yang punya pengalaman super warna-warni, mulai dari ikutan pertukaran ke Jerman dan bla bla bla sampai akhirnya itu yang mengantarkan dia sekarang berkarir dan hidup di sana. Semuanya berawal dari pertemannya dengan seorang kakak tingkat yang akhirnya ngasih dia informasi tentang program pertukaran itu.

Tuh, jangan-jangan, ini "kebetulan" lagi.

"Lho mas, berarti itu kebetulan dong? Ya kalau gitu, gimana aku bisa ngikutin?" kira-kira begini pertanyaanku ke sepupuku setelah dia cerita tentang temannya.

Begini jawabannya, "Ya kalau tentang kebetulan itu kita nggak tau ya, Na. Tapi ngomongin tentang kebetulan, emangnya kita sekarang ini nggak kebetulan?"

Ah, iya ya?

...Iya ya?

Ya ampun, iya juga ya, kalau sepupuku ini nggak datang ke Jogja lalu ngajak makan dan ngobrol panjang kayak gitu, mana mungkin malam itu pikiranku mulai terbuka untuk agak tergugah buat mencoba-coba hal seru di kuliahan?

Ketika aku merasa "kebetulan" itu nggak pernah ada di saat yang kubutuhkan, ternyata sebenarnya dia selalu datang! Hanya saja aku nggak pernah sadar.

Kemudian, kalau dipikir-pikir, kesempatan-kesempatan yang pernah kuambil sebelumnya, semuanya juga awalnya dari kebetulan. Kebetulan aja aku masuk di SMA bla bla, jadi ikut klub bla bla, akhirnya dapat akses untuk merasakan pengalaman bla bla. Kebetulan aja aku berteman dengan si bla bla, ternyata dia bla bla, akhirnya kami bikin project bla bla.

Akhirnya, aku jadi terpikir, pasti ada aja kesempatan lewat yang dibawa oleh "kebetulan". Kemudian, apa yang selanjutnya terjadi adalah kehendak kita sepenuhnya. Mau diambil untuk mengubah "takdir" kita, atau didiamkan saja dan dibiarkan lewat. Dua-duanya nggak benar dan nggak salah, namanya juga pilihan.

Hanya saja, lucu aja kalau aku iri dengan "kebetulan"-nya orang lain, padahal ternyata "kebetulan"-ku juga banyak.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Subscribe