Kisah si Penanam Cabai

13:06:00


Suatu hari di sebuah desa, ada sebuah keluarga yang sederhana. Lebih tepatnya sih, miskin kali… saking miskinnya, tuh keluarga makan aja susah, boro-boro mau jajanan kayak Chiki atau sejenisnya *apaaan seh?, makan sehari-hari aja susahnya minta ampun. Anak-anaknya nggak sekolah, cuman ngebantuin emaknya kerja *udah deh perkenalannya!!!
                
              Sampai suatu waktu, keluarga itu menemukan sebuah cabai segar yang tergeletak di depan rumah seorang warga. Si emak yang sudah lama nggak makan dikasih cabai. Akhirnya, dengan wajah berbinar si emak memungutnya dan dicampurkannya ke masakan. Seluruh keluarga senang, si Bapak, si Anak, dan si Emak sendiri. Namun, sebelum cabai itu dicampurkannya ke masakan, ia mengambil satu biji di dalamnya *aneh kaan??? lalu disimpannya. Selesai makan, si Emak merundingkan, apa yang seharusnya dilakukan terhadap cabai itu.
               Si bapak berkata, “Buat apa sih Mak, di simpen segala! Lha wong cuman biji aja lho!” namun si anak berkata, “Udah wes Mak, di tanem aja, barangkali bisa jadi tanaman Lombok…” lalu, setelah dipikir-pikir dan dirundingkan, si Emak dan si Bapak menyetujui usul si Anak.
               Merekapun menanam biji cabai di belakang rumahnya. Setelah ditunggu, beberapa hari kemudian tanaman cabai pun sudah berdiri di atas tanah, jauh lebih cepat dibandingkan cabai-cabai biasa. Sekeluarga itupun sangat senang dan bisa makan dengan rasa pedas setiap hari. Namun, tiba-tiba selang 3 hari, tanaman itu lenyap, dan tak ada bekas apapun. “Lho!!!! kok gak ada sih Mak?” erang si Anak. Sekeluarga menatap bekas tanaman itu dengan sedih. Namun, si Bapak melihat sesuatu berkilauan di sekitar bekas tanaman cabai.
               “Lho? apa ini?” tanyanya waktu memungut sesuatu keemasan disitu. Si Emak dan si Anak pun datang melihat. Si Anak terpekik, “I… ini emas pak!!! Sungguh!!! Aku pernah ditunjukin wujud emas waktu sekolah,”. Namun ketika mengucapkan kata terakhirnya, ia tampak sedih dan tertunduk. “Sabar nduk, kalau memang benar ini emas, kita kan bisa nyekolahin kamu toh?” lalu ketiganya tersenyum.
               Esok harinya muncul lagi emas, dan esoknya lagi. Namun, tanaman cabai tetap hilang. Kehadiran emas itu membuat keluarga itu tidak semiskin dulu meskipun belum kaya. Si Anak kembali bersekolah, makan tidak susah, dan sudah bisa membeli pakaian baru.
               Tapi di hari ketiga, tidak ada emas. Yang ada hanyalah tanaman cabai yang sudah berbuah. Sekeluarga keheranan. Namun, mereka tidak tamak dan tetap mensyukuri kepada Allah atas hadirnya tanaman itu lagi, mereka bisa makan enak hari itu.
               Lewat tiga hari, tanaman lenyap, digantikan emas yang berdatangan silih berganti selama tiga hari. Kemudian, kembali jadi tanaman, tiga hari kemudian jadi emas, dan seterusnya. Lama-lama keluarga itu jadi tamak, kecuali si Anak. Si Anak khawatir ketamakan akan membuat mereka justru semakin miskin.
               Benar sekali dugaan si Anak, bahkan lebih buruk. Selain jadi tamak, kedua orangtuanya jadi tidak percaya lagi kepada Allah. Mereka percaya pada tanaman cabai. Si Anak berusaha menyadarkan, tapi orangtuanya bersikap masa bodoh. Dia pun menyerah.
               Karena kedua orang tuanya semakin tamak, si Anak berdoa agar harta orang tuanya diambil kembali, ia rela tidak sekolah asalkan orangtuanya tidak tamak dan senantiasa menyembah Allah. Akhirnya, beberapa hari kemudian, musibah datang. Ada angin besar menuju rumah mereka, bencana itu membuat semua harta keluarga itu musnah. Termasuk si tanaman cabai sendiri. Si Bapak dan si Emak sedih bukan kepalang. Namun, si Anak malah tersenyum gembira walaupun rumahnya rusak.

Si Anak terbangun. Ia terbangun kaget, dan dengan bibir yang masih tersenyum. Ia merebah di atas kasur bututnya dan rumahnya yang jelek tapi masih utuh. “Hanya mimpi,” katanya. “Tapi menarik sih…” lanjutnya. Ia mengintip ke jendela usangnya yang tertutup kain bekas yang bututnya luar biasa. ia melihat dua ekor ayam memakan jagung di depan rumahnya. “Belum pernah ada yang punya ayam di rumah ini, tetanggaku juga nggak punya,” ia pun turun dari ranjangnya dan pergi ke luar.
               Matanya terbelalak. Si Emak yang memberi makan ayam tersebut. Si Emak menoleh melihat si Anak, “Selamat pagi nduk,” sapanya. Lalu disahut oleh si Bapak, “Bapak baru dapat rejeki nduk! Bapak baru dapat pekerjaan baru yang tetap! Insya Allah cukup buat ngebiayain sekolahmu, buat makan… ini, tadi juga bapak dikasih ayam sama atasan bapak. Baik ya, orang itu? beliau kebanyakan ayam sih…”
               Si Anak tersenyum dan matanya berbinar. “Makanya nduk, jadi orang jangan tamak, apalagi ingkar sama Gusti Allah… kalo sampai tamak sama ingkar sama Gusti Allah, rejeki pasti seret dan pikiran kita keruh buat ngeraih rejeki itu… Nih, liat… bapakmu sudah memperoleh hasil kerja kerasnya,”
               Si Anak lagi-lagi tersenyum.

~Selesai~


By : Na Ce Al ~

You Might Also Like

1 comments

  1. usaha dan doa itu yg terpenting dr cerita diatas. semoga dgn cerita tsb diatas menambah semangat utk berusaha dlm segala hal. termasuk meraih cita2.

    ReplyDelete

Beli merica, beli jamu.
Habis baca-baca, kuharapkan komenmu!